Senin, 24 Februari 2025

Haiiii Opa



Di sebuah sekolah menengah pertama yang penuh semangat, ada seorang gadis berusia 14 tahun bernama Oche. Cerdas, tekun, dan penuh ambisi. Dia memimpikan suatu hari bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada. Keinginan itu bukanlah sekadar impian kosong—Oche adalah tipe orang yang gigih. Bahkan, meskipun sering kali mood-nya naik turun, ia tidak pernah menyerah begitu saja. Dalam setiap langkah, ada keyakinan bahwa masa depannya bisa lebih baik.

Suatu hari, sekolahnya mengumumkan adanya rekrutmen tim podcast. Setiap kelompok diminta untuk membuat konten menarik yang bisa mengedukasi sekaligus menghibur. Oche pun membentuk kelompok dengan teman-temannya, Sekar dan Taufik, dua sahabat yang sudah sangat ia kenal dan akrab. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama, baik belajar kelompok maupun sekadar bercanda.

Oche tahu betul bahwa jika mereka ingin sukses, mereka harus memilih topik yang relevan dan menarik untuk didiskusikan. Setelah beberapa diskusi, mereka sepakat untuk mengangkat tema yang menurut mereka sangat penting—Krisis Bahasa pada Anak Remaja Sekarang.

"Bahasa kita sekarang kayaknya makin kacau, ya," ujar Taufik, menggenggam mic dengan penuh semangat. "Gara-gara social media, banyak kata-kata aneh yang muncul. Padahal itu kayaknya nggak sesuai banget dengan bahasa yang baik dan benar."

Sekar setuju, namun ia menambahkan, "Iya, dan banyak dari kita yang nggak sadar kalau ternyata kata-kata itu mulai masuk ke percakapan sehari-hari, loh. Gimana jadinya kalau itu terus berlanjut?"

Oche tersenyum mendengar percakapan teman-temannya. "Kita wawancara salah satu guru aja, yuk! Yang bisa nyambung sama kita, deh, yang bisa ngomongin ini dengan gaya yang anak muda banget."

Setelah memilih guru yang menurut mereka cocok, yaitu Pak Adi, seorang guru muda yang selalu bisa mengimbangi gaya anak-anak SMP, mereka pun menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Hari wawancara pun tiba, dan suasana di ruang podcast sekolah semakin tegang. Semua anggota kelompok Oche sudah siap.

Saat Pak Adi masuk, Oche spontan menyapa dengan gaya santainya. "Halo, Opa! Apa kabar?"

Teman-temannya terdiam sejenak, lalu langsung tertawa terbahak-bahak. Taufik hampir saja jatuh dari kursinya, sementara Sekar menutup mulutnya mencoba menahan tawa. Pak Adi, yang sebenarnya masih muda, hanya tersenyum dan mengangkat alis.

"Opa?" tanya Pak Adi, tersenyum jenaka.

Oche terlihat kaget, tapi dengan cepat ia menjelaskan, "Eh, maaf, Pak Adi. Gaya ngomong anak-anak sekarang kan suka begitu, lebih santai aja. Jadi kadang-kadang suka memanggil orang lebih akrab gitu, nggak harus pake sebutan formal. Haha, kebawa suasana."

Mereka semua tertawa, dan suasana wawancara menjadi sangat cair. Tanpa disadari, percakapan mengalir begitu lancar. Pak Adi pun berbicara tentang bahasa yang berkembang di kalangan remaja, pentingnya menjaga komunikasi yang baik, dan bagaimana kita harus lebih bijak dalam menggunakan bahasa, apalagi di dunia digital yang serba cepat dan terhubung.

"Anak-anak sekarang, ya, banyak yang berkomunikasi dengan gaya yang lebih ekspresif dan spontan, seperti yang Oche tadi lakukan," kata Pak Adi. "Tapi itu nggak berarti kita boleh sembarangan dalam menggunakan kata-kata. Ada banyak pengaruh negatif dari kata-kata yang tidak tepat, apalagi yang berbahaya atau merendahkan orang lain."

Oche mendengarkan dengan serius, meskipun di dalam hati ia tetap merasa sedikit geli mengenang insiden "Opa" tadi. Ternyata, wawancara itu tidak hanya menghibur, tapi juga memberikan banyak wawasan. Mereka berbicara tentang bagaimana bahasa bisa mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana pentingnya menggunakan bahasa yang bijaksana.

Setelah sesi wawancara selesai, mereka memutuskan untuk mengedit podcast mereka dengan ceria. Hasilnya luar biasa! Podcast itu mendapat sambutan positif dari teman-teman sekelas dan juga para guru. Mereka mendapatkan banyak feedback yang membangun. Banyak yang mengatakan, meskipun pembahasannya serius, cara mereka menyampaikan dengan gaya santai dan menghibur membuat orang lebih mudah memahami isu yang diangkat.

Oche merasa puas dengan hasil kerja keras mereka, namun ia tetap merenung sejenak. Betapa pentingnya untuk bisa mengimbangi kreativitas dengan tanggung jawab, terutama dalam hal berbahasa. Ia mulai berpikir, mungkin saja, sebuah perubahan kecil dalam cara kita berkomunikasi bisa membawa dampak besar di masa depan.

Dan walaupun dia sering badmood, Oche tahu bahwa dengan semangat, kerja keras, dan sedikit humor, ia bisa mencapai segala sesuatu yang ia impikan, termasuk kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Di ujung hari, sambil melangkah pulang, Oche tersenyum lebar. Ternyata, dunia itu luas dan penuh kesempatan, hanya perlu beSekar untuk memulai dan berusaha sebaik mungkin.

"Selamat tinggal, Opa!" kata Oche, tertawa kecil, saat mengingat bagaimana ia memanggil Pak Adi tadi. Terkadang, hal-hal spontan yang terjadi dalam hidup justru bisa membawa kebahagiaan dan pelajaran yang luar biasa.

 


Selasa, 18 Februari 2025

Kebiasaan yang Bikin Ngakak

 


Sinta adalah seorang remaja yang selalu ceria dan penuh semangat. Hari itu, ia dan teman-temannya dari SMP di Kabupaten Demak sedang melakukan outing class ke Yogyakarta. Perjalanan begitu seru, penuh canda tawa, dan tentu saja, sesi foto-foto ala selebgram di setiap sudut kota.

Setelah puas mengunjungi berbagai tempat, tibalah waktu makan siang. Rombongan pun berhenti di sebuah rumah makan bernama "Lestari". Semua siswa langsung mencari tempat duduk dan mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia.

Sinta, yang terbiasa membantu ibunya di rumah, dengan lahap menyantap makanannya. Setelah perutnya kenyang, tanpa pikir panjang, tangannya langsung refleks mengambil piringnya dan berjalan ke wastafel. Dengan penuh ketelatenan, ia mulai mencuci piringnya seperti yang biasa ia lakukan di rumah.

Cipratan air dan busa sabun beterbangan ke sana-sini. Saat itulah beberapa teman yang melihatnya langsung terdiam, sebelum akhirnya meledak dalam tawa.

"Woi, Sin! Kita di rumah makan, bukan di rumah sendiri!" teriak salah satu temannya.

"Eh?" Sinta menoleh dengan ekspresi bingung, sementara tangannya masih menggosok piring dengan tekun.

Seisi rumah makan langsung riuh dengan tawa. Para pelanggan lain menoleh ke arahnya dengan ekspresi heran, sementara beberapa teman bahkan mulai merekam kejadian itu. Salah satu guru yang ikut mendampingi pun tak bisa menahan senyum.

"Sinta, kamu baik banget, ya. Tapi di sini piringnya nggak perlu dicuci sendiri, lho. Ada pegawainya yang bertugas," ujar Bu Rina sambil menahan tawa.

Mendengar itu, wajah Sinta seketika memerah. Ia buru-buru membilas piringnya dan kembali ke meja dengan langkah malu-malu.

"Udah, Sin. Besok-besok kalo ke restoran cukup makan aja, nggak usah bonus nyuci piring," goda Rina, sahabatnya.

Sejak kejadian itu, Sinta pun mendapat julukan baru dari teman-temannya: "Sinta si pencuci piring". Meski awalnya malu, ia akhirnya ikut tertawa dan menganggapnya sebagai kenangan lucu yang akan selalu ia ingat sepanjang hidupnya.

Selasa, 28 Januari 2025

KU LIHAT KAMU LAGI

 



Asyifa menatap layar ponselnya dengan jantung berdegup kencang. Beranda TikTok-nya menampilkan sosok yang tak asing lagi. Seorang pemuda dengan senyum menawan, berpakaian rapi, dan aura yang berbeda. Sosok itu... Farel. 

 

Farel dulu adalah bagian dari masa lalunya, seseorang yang pernah mengisi hatinya, namun berakhir dengan kekecewaan. Sudah bertahun-tahun mereka tak saling bertukar kabar. Perpisahan mereka bukan sekadar kehilangan komunikasi, tetapi luka yang meninggalkan bekas mendalam. 

Asyifa menatap caption video itu, "Masa lalu harus kutinggalkan demi masa depan yang gemilang." 

Seolah-olah waktu terhenti. Pikirannya berputar ke masa lampau. Dulu, Farel bukan siapa-siapa. Dia seorang pemuda biasa yang gemar menghabiskan waktu dengan teman-temannya, namun sering terjerat kebiasaan yang tidak produktif. Hal-hal seperti nongkrong hingga larut malam, bercanda tanpa arah, dan—yang paling melukai Asyifa—terlihat terlalu dekat dengan beberapa perempuan lain. 

Asyifa mencampakkannya karena merasa Farel tidak akan pernah berubah. Tapi kini, melihat video itu, hati kecilnya mulai bertanya-tanya. "Apakah aku salah? Apakah dia berubah? Apakah mungkin aku yang terlalu cepat menghakimi dulu?" 

Hari itu, Asyifa tak bisa mengalihkan pikirannya dari Farel. Malamnya, ia kembali membuka TikTok, mencoba mencari akun Farel. Sekali klik, ia sudah berada di halaman profilnya. Video-video yang diunggah Farel semuanya mengisyaratkan perubahan besar. Tentang kebangkitan, perjuangan, dan... kehidupan yang lebih bermakna. 

"Apa dia benar-benar berubah?" gumam Asyifa. 

Rasa penasaran membawanya untuk menghubungi salah satu teman lama mereka, Satria. 

"Sat, kamu masih kontak sama Farel?" tanya Asyifa melalui telepon. 

"Oh, Farel? Iya, masih. Kenapa?" balas Satria dengan nada heran. 

"Dia... benar-benar berubah, ya?" 

Satria tertawa kecil. "Maksudmu? Ya, dia sekarang udah jauh beda, Syif. Dulu sih memang agak amburadul, tapi sekarang dia lagi bangun bisnis dan sering ikut kegiatan sosial." 

Asyifa tertegun. Satria melanjutkan, "Farel sering cerita sih, masa lalu dia adalah pelajaran besar. Kayaknya, dia benar-benar bertekad buat jadi lebih baik." 

Setelah percakapan itu, Asyifa semakin bimbang. Rasa bersalah mulai merayap di hatinya. 

Beberapa hari kemudian, takdir mempertemukan mereka secara tak terduga. Asyifa sedang berada di sebuah kafe kecil di sudut kota. Dia sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca buku ketika sebuah suara yang tak asing menyapanya. 

"Asyifa?" 

Ia mendongak. Farel berdiri di depannya, tersenyum dengan wajah yang kini lebih dewasa. Penampilannya bersih, rapi, dan auranya memancarkan kepercayaan diri. 

"Hai, Farel..." jawab Asyifa gugup. 

"Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini," ujar Farel, duduk di kursi kosong tanpa ragu. 

Asyifa hanya tersenyum kecil, merasa canggung. 

Percakapan mereka dimulai dengan basa-basi, tapi perlahan menjadi lebih dalam. Farel bercerita tentang kehidupannya yang berubah total. Tentang bagaimana ia sempat terpuruk setelah perpisahan mereka, tapi hal itu justru menjadi titik baliknya. 

"Saat kamu pergi, aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga," ungkap Farel. "Awalnya aku marah, kecewa, tapi kemudian aku sadar... kamu benar. Aku memang nggak pantas waktu itu." 

Asyifa terdiam, hatinya berdebar mendengar pengakuan itu. 

"Tapi aku nggak berubah karena ingin membuktikan sesuatu ke kamu atau siapa pun," lanjut Farel. "Aku berubah karena aku sadar, aku butuh hidup yang lebih baik." 

Asyifa menatap matanya. "Aku senang mendengarnya, Rel. Kamu sekarang terlihat... sangat berbeda." 

"Dan kamu masih seperti dulu," balas Farel, tersenyum hangat. 

Pertemuan itu menjadi awal dari hu ungan baru di antara mereka. Meski tak langsung kembali dekat, Farel dan Asyifa mulai sering bertukar pesan. Farel dengan senang hati menunjukkan bagaimana dirinya kini, sementara Asyifa mulai membuka hatinya untuk mengenal Farel yang baru. 

Namun, perjalanan ini tidak berjalan mulus. 

Di tengah kebahagiaan yang mulai tumbuh, muncul kabar tak terduga. Farel sedang menghadapi masalah besar dalam bisnisnya. Ia menjadi korban penipuan oleh rekan kerjanya sendiri, membuatnya kehilangan banyak uang. 

Saat Asyifa mengetahui hal ini, ia segera menghubungi Farel. 

"Kenapa kamu nggak cerita?" tanya Asyifa dengan nada khawatir. 

"Aku nggak mau kamu khawatir, Syif. Lagipula, aku bisa mengatasinya," jawab Farel dengan nada tegas, meski ada kelelahan yang jelas di suaranya. 

"Tapi aku mau ada di sisimu, Rel. Kita kan teman..." ucap Asyifa, menyadari hatinya mengatakan lebih dari itu. 

Hari-hari berikutnya, Asyifa menjadi sumber semangat bagi Farel. Ia mendukung Farel dengan cara-cara sederhana, seperti mendengarkan curhatannya atau membantunya mencari solusi. Perlahan, Farel bangkit kembali. 

Di momen itulah, Farel menyadari sesuatu. 

"Asyifa," ujarnya suatu malam, saat mereka berbicara di telepon. 

"Iya, Rel?" 

"Aku sadar... kamu adalah orang yang selalu aku inginkan. Dulu aku terlalu bodoh untuk melihat itu. Tapi sekarang, aku ingin memperjuangkanmu." 

Hati Asyifa bergetar mendengar kata-kata itu. Ia tahu, Farel yang sekarang adalah seseorang yang berbeda. Seseorang yang layak untuk diberi kesempatan kedua. 

"Asal kamu tahu, aku pun berharap kamu tetap ada di hidupku," balas Asyifa dengan suara lembut. 

Dan malam itu, masa lalu benar-benar menjadi pelajaran. Mereka memutuskan untuk melangkah bersama, meninggalkan kenangan pahit, dan membangun masa depan yang lebih indah.


Selasa, 07 Januari 2025

Jejak yang Tertinggal di Balik Debu



Langit senja berpendar jingga ketika Pak Wiryo menumpukan tubuh lelahnya di kursi kayu di teras rumah. Tangannya yang penuh kapalan menggenggam gelas teh hangat, namun matanya nanar menatap jalanan depan rumah. Sudah beberapa hari Ambar, putri semata wayangnya, pulang tanpa menyapanya. Kata-kata yang diucapkan gadis itu lebih sering berupa cercaan daripada sapaan penuh kasih.

"Kenapa, Pak? Uang jajanku kurang lagi?" Ambar pernah membentaknya dengan tatapan penuh benci.
"Kenapa, Pak? Kenapa aku harus malu punya ayah tukang batu seperti Bapak?"

Pak Wiryo hanya diam, menyimpan luka di dalam hati yang tak pernah ia suarakan.

Di sekolah, Ambar duduk di bangku deretan depan dengan tatapan penuh kejengkelan. Tawa teman-temannya menghiasi ruangan, tetapi setiap canda yang diarahkan padanya adalah ejekan yang merobek hatinya.

"Ambar, jangan lupa, nanti kalau rumahmu dibangun lagi, suruh bapakmu bikin kastil!"
"Ya, kastil dari batu bata yang retak!"

Ambar tertawa hambar, mencoba bergabung dalam canda, tapi hatinya terbakar. Setiap kali ia mengingat wajah penuh peluh ayahnya, ia semakin geram. Di rumah, ia melampiaskan semua kemarahan itu.

"Semuanya salah Bapak!" teriaknya suatu malam. "Kalau saja Bapak bukan tukang batu, aku tidak akan malu di sekolah!"

Pak Wiryo, yang sedang membersihkan alat-alat kerjanya, terdiam. Ia hanya menatap gadis itu dengan mata penuh kasih, tapi mulutnya tetap terkunci.

Malam itu hujan deras mengguyur kota. Ambar yang baru pulang dari pesta ulang tahun temannya memutuskan untuk berjalan kaki. Rasa kesal membanjiri dadanya. Saat melintasi jalan licin, sebuah mobil melaju kencang dan…

Brakkk!

Tubuh Ambar terpelanting ke pinggir jalan. Suara klakson memekakkan telinga, dan orang-orang mulai berkerumun. Namun, segalanya memudar menjadi gelap.

Ketika Ambar terbangun, matanya perlahan-lahan menangkap bayangan buram di sisinya. Wajah kusut dengan mata sembap. Ayahnya duduk di sana, tangannya menggenggam erat jemarinya yang kecil. Setiap detik yang berlalu meninggalkan jejak kecemasan di wajah lelaki itu.

"Bapak…?" suara Ambar serak.

Pak Wiryo tersentak, senyum mengembang di wajah yang dipenuhi keriput. "Nak, kamu sadar…?"

Ambar menatap wajah ayahnya lama. Wajah itu, yang dulu dipandangnya penuh hina, kini tampak penuh kasih dan kelelahan. Ia menyadari bahwa di balik setiap debu yang menempel di tangan ayahnya, ada cinta yang tak pernah pudar.

"Dari tadi Bapak di sini?" bisik Ambar.

Pak Wiryo mengangguk pelan, senyum tulus tak pernah pudar dari wajahnya. "Bapak selalu di sini, Nak."

Air mata Ambar mulai mengalir, membasahi pipinya. "Aku... Aku jahat sama Bapak..."

Pak Wiryo hanya menggeleng, tangan kasarnya membelai lembut rambut putrinya. "Bapak hanya ingin kamu bahagia. Apa pun yang Bapak lakukan, itu semua untuk kamu."

Dan di sanalah, di antara suara mesin dan aroma antiseptik, sebuah kesadaran tumbuh dalam hati Ambar. Bahwa cinta sejati tidak diukur dari pekerjaan atau harta, tetapi dari pengorbanan dan ketulusan yang tak pernah diminta kembali.

Setelah keluar dari rumah sakit, Ambar tidak lagi menunduk malu saat berjalan bersama ayahnya. Ketika teman-temannya mulai mengejek, ia tersenyum tipis dan berkata, "Bapak memang tukang batu, dan aku bangga. Dia membangun dunia dengan tangannya."

Dan sejak saat itu, Ambar tidak pernah lagi merasa malu. Sebaliknya, ia berjalan dengan kepala tegak, karena di balik debu dan peluh seorang ayah, ada cinta yang tak pernah pudar—jejak yang tak akan pernah hilang.

Sebuah Pelajaran untuk Rere

 


Pagi itu, suasana kelas VIII B di SMP Harapan Bangsa terasa gaduh. Bisik-bisik menyebar cepat, memenuhi ruangan seperti angin ribut. Semua mata tertuju pada Lani, gadis berprestasi yang selalu tersenyum ramah. Namun, kali ini, senyumnya pudar. Di pojok kelas, Rere berdiri dengan sikap penuh percaya diri sambil menudingkan jari.

"Dia yang mengambil uang di tas Shinta!" serunya lantang.

"Benarkah, Lani?" tanya Shinta dengan suara bergetar.

Lani hanya menunduk. Matanya berkaca-kaca, tercekik oleh tuduhan yang tak pernah terbayangkan.

Nova yang duduk di bangku tengah memperhatikan semua itu dengan resah. Ia tahu kebenarannya—Rere sengaja menyebarkan kebohongan karena iri pada Lani yang selalu mendapat peringkat pertama. Namun, ketakutan menguasainya. Rere pernah mengancam akan menuduh Nova bersekongkol dengan Lani jika ia berani bicara.

Namun, hati kecil Nova tak bisa diam. Saat istirahat tiba, ia menemui Lani yang duduk sendirian di bangku taman sekolah.

"Lani, aku tahu kau tidak bersalah," bisik Nova.

Lani menoleh dengan air mata menetes. "Kenapa mereka semua percaya padanya, Nova?"

Nova terdiam sejenak, lalu mengangguk tegas. "Kita harus meluruskan semuanya."

Hari berikutnya, Nova mengumpulkan keberaniannya. Di depan seluruh kelas, ia berbicara dengan lantang.

"Aku tahu siapa yang menyebarkan kabar bohong itu!" serunya. "Rere hanya iri karena tidak pernah bisa mengalahkan Lani!"

Semua murid terdiam. Mata mereka kini tertuju pada Rere, yang wajahnya mulai memerah.

"Itu bohong!" Rere membantah, tapi suaranya bergetar.

"Tapi aku punya bukti," lanjut Nova, memperlihatkan buku catatan yang penuh dengan coretan Rere tentang rencananya memfitnah Lani. "Ini tulisanmu sendiri."

Rere akhirnya tak mampu lagi menyangkal. Ia menundukkan wajah, rasa malu membanjiri dirinya. Seluruh kelas mulai berbisik tentang pengkhianatan dan kebohongannya. Perlahan, teman-temannya mulai menjauh darinya.

"Saya... saya minta maaf," ucap Rere kepada Lani, suaranya bergetar. "Saya salah. Saya hanya iri. Saya tidak seharusnya melakukan itu."

Lani memandang Rere lama, lalu mengangguk. "Aku memaafkanmu. Tapi ingatlah, kejujuran dan persahabatan lebih penting daripada peringkat."

Sejak hari itu, Rere belajar untuk menghargai kejujuran dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Sementara Nova, yang telah berani membela kebenaran, menjadi contoh bagi teman-temannya tentang arti keberanian sejati.

Dan Lani? Ia kembali tersenyum ceria, membawa pelajaran tentang pentingnya memaafkan.

Senin, 06 Januari 2025

Cinta yang Terkorbankan

 


Tiara baru saja pulang dari sekolah ketika menemukan ibunya sibuk mencuci piring di dapur. Tumpukan cucian menunggu, dan lantai rumah sederhana mereka belum sempat disapu. Sejak beberapa bulan terakhir, Tiara selalu membantu ibunya setelah pulang. Waktu bermainnya hilang, tetapi ia tak pernah mengeluh.

"Bu, istirahat dulu. Biar aku yang lanjut," katanya sambil menggulung lengan seragam.

Ibunya menatap lelah, senyum tipis terlukis di bibirnya. "Terima kasih, Nak. Kamu anak yang kuat."

Tiara melanjutkan pekerjaannya dengan cekatan. Namun, hatinya terus bertanya-tanya—ke mana ayahnya? Sudah tiga bulan lelaki yang dulu kerap membelikannya permen kapas itu tidak pulang.

Suatu sore, saat membantu ibunya menyiapkan makanan, suara berita dari televisi menarik perhatiannya. Wajah seorang pria yang begitu dikenalnya muncul di layar. Ayahnya.

"Seorang pria tertangkap basah merampok sebuah toko perhiasan. Pelaku mengaku terpaksa melakukan aksi tersebut demi membahagiakan putrinya yang sangat ia cintai," kata pembawa berita.

Piring di tangan Tiara jatuh, pecah berderai. Tangannya gemetar. "Bu… itu Ayah…"

Ibunya membeku, tatapannya kosong. Air mata mulai membanjiri wajahnya, dan ia memeluk Tiara erat-erat. "Maafkan Ayahmu, Nak…"

Tiara tidak bisa berkata-kata. Kepalanya penuh tanya. Mengapa Ayah melakukan itu? Mengapa harus melanggar hukum demi dirinya?

Esoknya di kantor polisi, Tiara berusaha menahan air mata ketika melihat ayahnya duduk di balik jeruji besi. Matanya yang dulu penuh kasih kini penuh rasa bersalah.

"Ayah..." suaranya parau. "Kenapa?"

Ayahnya tersenyum lemah. "Ayah ingin kamu punya hidup lebih baik, Nak. Ayah ingin membelikanmu sepeda baru, seragam yang layak... Ayah tidak mau kamu terus menderita."

Tiara menggenggam jeruji itu erat-erat. "Tapi, Ayah, aku tidak butuh semua itu! Aku hanya ingin Ayah di rumah bersama aku dan Ibu!"

Lelaki itu terisak. "Ayah bodoh, Nak. Ayah terlalu jauh melangkah."

Mereka menangis bersama. Tiara menyadari bahwa cinta ayahnya telah membawanya pada pilihan yang salah. Namun, cinta itulah yang juga membuat Tiara kuat.

"Pak," katanya, "janji ya, kalau Ayah pulang nanti, kita mulai dari awal. Kita hadapi semuanya bersama."

Ayahnya mengangguk, air mata terus mengalir. "Janji, Nak. Ayah akan menjadi lebih baik. Demi kamu, demi keluarga kita."

Tiara pulang dengan hati yang penuh luka, tetapi juga harapan. Kehidupan tidak selalu adil, tetapi ia percaya bahwa cinta yang tulus, meskipun kadang salah arah, bisa menemukan jalannya kembali.

Ombak dan Doa

 


Desir ombak menampar keras sisi perahu kecil yang terombang-ambing di tengah laut. Langit mendung seakan menebarkan ancaman, dan angin kencang membuat layar terkibar liar. Namun, seorang pria tua dengan wajah penuh gurat kelelahan tetap bertahan memegang kemudi. Dialah Pak Salim, ayah dari Aufa. Tangannya kasar dan matanya penuh tekad, meski hatinya selalu bergulat antara rasa takut dan tanggung jawab.

Pak Salim tahu benar risikonya melaut saat cuaca buruk seperti ini. Beberapa tetangga sudah memperingatkannya. Tetapi, kebutuhan keluarga memaksa. Dua anak kecil yang menunggu di rumah hanya punya sebutir nasi dan sepotong ikan asin untuk makan. Uang hasil tangkapan terakhir tak cukup untuk membeli beras lagi. Sementara itu, Aufa, putra sulungnya, berada jauh di pondok pesantren, mencari ilmu agama seperti yang selama ini ia dambakan.

Di pondok pesantren, Aufa tak pernah tahu betapa berat perjuangan ayahnya. Ia menghabiskan hari-harinya menghafal Al-Qur'an dan mempelajari ilmu agama, berharap menjadi anak yang saleh sesuai harapan sang ayah. Namun, malam itu, entah mengapa hatinya tiba-tiba gelisah. Seakan ada yang menekan dadanya dengan beban yang tak terlihat. Ia pun mengambil wudhu dan bersujud lebih lama dari biasanya. Doa panjang meluncur dari bibirnya, mendoakan keselamatan ayah yang jauh di tengah lautan.

Sementara itu, di atas perahu, gelombang semakin besar. Pak Salim berjuang keras agar perahunya tetap bertahan. Tiba-tiba, suara gemuruh keras terdengar, dan ombak besar menghantam sisi perahu, membuat tubuhnya terhempas. Jantungnya berdegup kencang saat ia tersadar, air mulai memenuhi lambung kapal. Dengan tenaga tersisa, ia menimba air sekuat tenaga, sembari memohon dalam hati, "Ya Allah, lindungi aku. Biarkan aku pulang demi anak-anakku. Aku tak bisa meninggalkan mereka tanpa apa-apa."

Ombak terus bergulung-gulung. Tubuhnya lelah, tangannya mulai gemetar. Tapi kemudian, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang menopangnya, ombak perlahan mereda. Langit mulai cerah, dan matahari kecil memancarkan sinarnya di ufuk timur. Pak Salim memandang ke langit dengan air mata menetes di pipinya. Ia tahu, doa yang dipanjatkan Aufa telah menjaganya. Tuhan tak pernah membiarkan doa anak saleh berlalu tanpa jawaban.

Hari itu, Pak Salim pulang dengan tangkapan seadanya. Namun, yang lebih penting baginya adalah keselamatan yang masih ia genggam. Saat memasuki rumah, ia melihat kedua anak kecilnya menyambut dengan senyum lebar, meski hanya nasi dan ikan asin yang menanti mereka. Pak Salim memeluk mereka erat, merasakan hangatnya cinta keluarga yang menjadi kekuatan sejatinya.

Di pondok, Aufa menyeka air matanya setelah selesai shalat. Hatinya tenang, seolah sebuah bisikan lembut mengatakan bahwa ayahnya selamat. Dan kelak, saat ia kembali ke rumah, ia berjanji akan menjadi pelita bagi adik-adiknya dan penerus harapan ayahnya.


Haiiii Opa

Di sebuah sekolah menengah pertama yang penuh semangat, ada seorang gadis berusia 14 tahun bernama Oche. Cerdas, tekun, dan penuh ambisi. ...