Di sebuah sekolah menengah pertama yang penuh
semangat, ada seorang gadis berusia 14 tahun bernama Oche. Cerdas, tekun, dan
penuh ambisi. Dia memimpikan suatu hari bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada.
Keinginan itu bukanlah sekadar impian kosong—Oche adalah tipe orang yang gigih.
Bahkan, meskipun sering kali mood-nya naik turun, ia tidak pernah menyerah
begitu saja. Dalam setiap langkah, ada keyakinan bahwa masa depannya bisa lebih
baik.
Suatu hari, sekolahnya mengumumkan adanya rekrutmen
tim podcast. Setiap kelompok diminta untuk membuat konten menarik yang bisa
mengedukasi sekaligus menghibur. Oche pun membentuk kelompok dengan
teman-temannya, Sekar dan Taufik, dua sahabat yang sudah sangat ia kenal dan
akrab. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama, baik belajar kelompok
maupun sekadar bercanda.
Oche tahu betul bahwa jika mereka ingin sukses,
mereka harus memilih topik yang relevan dan menarik untuk didiskusikan. Setelah
beberapa diskusi, mereka sepakat untuk mengangkat tema yang menurut mereka
sangat penting—Krisis Bahasa pada Anak Remaja Sekarang.
"Bahasa kita sekarang kayaknya makin kacau,
ya," ujar Taufik, menggenggam mic dengan penuh semangat. "Gara-gara
social media, banyak kata-kata aneh yang muncul. Padahal itu kayaknya nggak
sesuai banget dengan bahasa yang baik dan benar."
Sekar setuju, namun ia menambahkan, "Iya,
dan banyak dari kita yang nggak sadar kalau ternyata kata-kata itu mulai masuk
ke percakapan sehari-hari, loh. Gimana jadinya kalau itu terus berlanjut?"
Oche tersenyum mendengar percakapan
teman-temannya. "Kita wawancara salah satu guru aja, yuk! Yang bisa
nyambung sama kita, deh, yang bisa ngomongin ini dengan gaya yang anak muda
banget."
Setelah memilih guru yang menurut mereka cocok,
yaitu Pak Adi, seorang guru muda yang selalu bisa mengimbangi gaya anak-anak
SMP, mereka pun menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Hari
wawancara pun tiba, dan suasana di ruang podcast sekolah semakin tegang. Semua
anggota kelompok Oche sudah siap.
Saat Pak Adi masuk, Oche spontan menyapa dengan
gaya santainya. "Halo, Opa! Apa kabar?"
Teman-temannya terdiam sejenak, lalu langsung
tertawa terbahak-bahak. Taufik hampir saja jatuh dari kursinya, sementara Sekar
menutup mulutnya mencoba menahan tawa. Pak Adi, yang sebenarnya masih muda,
hanya tersenyum dan mengangkat alis.
"Opa?" tanya Pak Adi, tersenyum jenaka.
Oche terlihat kaget, tapi dengan cepat ia
menjelaskan, "Eh, maaf, Pak Adi. Gaya ngomong anak-anak sekarang kan suka
begitu, lebih santai aja. Jadi kadang-kadang suka memanggil orang lebih akrab
gitu, nggak harus pake sebutan formal. Haha, kebawa suasana."
Mereka semua tertawa, dan suasana wawancara
menjadi sangat cair. Tanpa disadari, percakapan mengalir begitu lancar. Pak Adi
pun berbicara tentang bahasa yang berkembang di kalangan remaja, pentingnya
menjaga komunikasi yang baik, dan bagaimana kita harus lebih bijak dalam
menggunakan bahasa, apalagi di dunia digital yang serba cepat dan terhubung.
"Anak-anak sekarang, ya, banyak yang
berkomunikasi dengan gaya yang lebih ekspresif dan spontan, seperti yang Oche
tadi lakukan," kata Pak Adi. "Tapi itu nggak berarti kita boleh
sembarangan dalam menggunakan kata-kata. Ada banyak pengaruh negatif dari
kata-kata yang tidak tepat, apalagi yang berbahaya atau merendahkan orang
lain."
Oche mendengarkan dengan serius, meskipun di
dalam hati ia tetap merasa sedikit geli mengenang insiden "Opa" tadi.
Ternyata, wawancara itu tidak hanya menghibur, tapi juga memberikan banyak
wawasan. Mereka berbicara tentang bagaimana bahasa bisa mempengaruhi cara kita
berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana pentingnya menggunakan bahasa
yang bijaksana.
Setelah sesi wawancara selesai, mereka memutuskan
untuk mengedit podcast mereka dengan ceria. Hasilnya luar biasa! Podcast itu
mendapat sambutan positif dari teman-teman sekelas dan juga para guru. Mereka
mendapatkan banyak feedback yang membangun. Banyak yang mengatakan, meskipun
pembahasannya serius, cara mereka menyampaikan dengan gaya santai dan menghibur
membuat orang lebih mudah memahami isu yang diangkat.
Oche merasa puas dengan hasil kerja keras mereka,
namun ia tetap merenung sejenak. Betapa pentingnya untuk bisa mengimbangi
kreativitas dengan tanggung jawab, terutama dalam hal berbahasa. Ia mulai
berpikir, mungkin saja, sebuah perubahan kecil dalam cara kita berkomunikasi
bisa membawa dampak besar di masa depan.
Dan walaupun dia sering badmood, Oche tahu bahwa
dengan semangat, kerja keras, dan sedikit humor, ia bisa mencapai segala
sesuatu yang ia impikan, termasuk kuliah di Universitas Gadjah Mada.
Di ujung hari, sambil melangkah pulang, Oche
tersenyum lebar. Ternyata, dunia itu luas dan penuh kesempatan, hanya perlu beSekar
untuk memulai dan berusaha sebaik mungkin.
"Selamat tinggal, Opa!" kata Oche,
tertawa kecil, saat mengingat bagaimana ia memanggil Pak Adi tadi. Terkadang,
hal-hal spontan yang terjadi dalam hidup justru bisa membawa kebahagiaan dan
pelajaran yang luar biasa.